Wednesday, January 25, 2017

Teknik Komunikasi Efektif dengan Konstituen


Beberapa persoalan yang sering timbul seputar hubungan DPRD dan konstituennya adalah akibat langsung dari kegagalan berkomunikasi. Kegagalan dalam berkomunikasi dapat disebabkan oleh banyak hal. Komunikasi adalah pertukaran dan aliran informasi dan ide dari satu orang kepada yang lain. Komunikasi dalam prakteknya melibatkan seorang yang mengirimkan pesan dan seorang penerima. Komunikasi yang efektif terjadi hanya jika penerima mengerti informasi atau ide yang diterima dengan pengertian yang sama dengan pengirim. Komunikasi adalah rantai yang mempersatukan para pihak yang terlibat dalam suatu kegiatan.


Faktor-faktor dalam proses berkomunikasi adalah pesan berupa informasi, fakta atau kata-kata; Pengirim baik individu, kelompok, organisasi atau masyarakat dan Penerima baik individu, kelompok, organisasi atau masyarakat. Sepanjang proses penyampaian pesan, dua proses akan diterima oleh penerima yaitu isi dan konteks. Isi pesan adalah kata atau simbol yang digunakan dalam pesan. Konteks adalah cara penyampaian atau bagaimana pesan tersebut disampaikan seperti tekanan kata, pandangan, bahasa tubuh, ekspresi perasaan (marah, khawatir, ragu, rendah diri, dll).

Banyak anggota DPRD berpikir bahwa mereka telah berkomunikasi dengan konstituennya ketika melakukan kunjungan sesaat ke suatu daerah. Sangat umum konstituen yang dikunjunginya tidak mengerti pesan yang disampaikan. Sebuah pesan belum dikomunikasikan jika pesan tersebut tidak dimengerti oleh penerima. Bagaimana untuk mengetahui bahwa pesan tersebut telah diterima? Kuncinya adalah dengan komunikasi dua arah dan umpan balik.

Biasanya Dewan melakukan komunikasi satu arah dan lebih senang berbicara daripada mendengar. Kita terbiasa untuk berbicara, tetapi kita jarang dilatih untuk mendengar. Mendengar juga perlu dilatih. Bagi seorang anggota DPRD, sangat penting untuk untuk menjadi pendengar yang baik. Bagaimana Dewan melatih dirinya mendengar dan merespon dengan cara yang menjamin bahwa konstituen akan membuat keputusan sendiri dan menangkap pesan sendiri? respon yang paling efektif dalam sebuah komunikasi adalah dimana penerima menunjukkan ketertarikan kepada pengirim sebagai pribadi, memahami apa yang telah dikatakan dan mendorong pengirim untuk meneruskan, mengelaborasi dan menggali topik selanjutnya.

Mendengar dapat dikategorikan menjadi dua bagian: Pertama,mendengar sebagai aktivitas fisik. Dalam hal ini mendengar adalah kegiatan menerima bunyi atau secara sederhana merujuk pada penerimaan rangsangan oleh anggota tubuh. Kedua, mendengar sebagai tindakan yang melibatkan penerimaan dan interpretasi bunyi kedalam pengertian. Mendengar dalam pengertian ini juga dapat dibagi menjadi dua kategori: Mendengar aktif dan mendengar pasif. Mendengar terjadi ketika penerima memiliki motivasi yang

rendah untuk benar-benar mendengar, seperti dalam musik, cerita, televisi atau untuk menjaga sopan santun. Mendengar aktif dalam sisi lain, melibatkan upaya mendengar dengan tujuan seperti untuk mendapatkan informasi, mendapatkan arah, memahami orang lain, memecahkan masalah, berbagi pengalaman menarik, mendengarkan keluhan orang lain, atau menunjukkan dukungan. Ini memerlukan bahwa pendengar masuk ke dalam kata-kata dan perasaan pengirim untuk benar-benar dapat memahami. Hal ini memerlukan energi yang sama atau bahkan lebih besar dari berbicara. Penerima perlu mendengar berbagai pesan, mengerti maksudnya, dan kemudian menguji/memeriksa pemahamannya dengan memberi umpan balik. Berikut beberapa sifat dari pendengar yang baik:
  1. Menghabiskan lebih banyak waktu untuk mendengar daripada berbicara.
  2. Tidak menghentikan/memotong kalimat orang lain.
  3. Tidak menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
  4. Memperhatikan bias pada saat komunikasi sedang dilakukan.
  5. Tidak menghayal atau sibuk dengan pikiran sendiri ketika orang lain berbicara.
  6. Membiarkan orang lain berbicara. Tidak mendominasi pembicaraan.
  7. Merencanakan respon ketika orang lain selesai berbicara dan tidak pada saat orang tersebut bicara.
  8. Memberikan umpan balik tetapi tidak dengan terus-menerus memotong.
  9. Menganalisis dengan melihat seluruh faktor yang relevan dan bertanya dengan pertanyaan terbuka.
  10. Membiarkan pembicaraan tetap dalam apa yang dikatakan pembicara, tetapi TIDAK dalam hal yang menarik bagi diri sendiri.
  11. Membuat catatan ringkas untuk membantu konsentrasi pada apa yang telah dikatakan.
Mendengar dapat menjadi kekuatan Dewan dalam berkomunikasi dengan konstituen. Gunakanlah!

Komunikasi Politik Sebagai Sarana Pengikat

Seperti halnya komunikasi pada umumnya, komunikasi politik juga tidak terlepas dari elemen dasarnya. Ada komunikator, ada pesan, ada saluran komunikasi dan juga komunikan serta umpan baliknya. Ciri yang membedakannya dengan komunikasi pada umumnya adalah tujuan dan pesan yang disampaikan. Dalam konteks komunikasi politik, tujuan akhirnya adalah mengajak publik agar mendukung kebijakan partai politik. Sedangkan pesan yang disampaikan adalah persoalan yang menyangkut kepentingan umum/ publik.

Dunia komunikasi politik di Indonesia telah berkembang sedemikian pesatnya dibanding di masa-masa lalu. Bukan hanya teknik komunikasinya, tetapi juga iklim dan kesadaran tentang pentingnya menjaga hubungan dengan publik cukup tinggi. Tetapi jika boleh mengkritisi, komunikasi politik yang terjadi di berbagai organisasi politik masih belum terkelola dengan rapi dan terencana baik. Dalam beberapa kasus, kita masih menyaksikan sikap-sikap ”chocky” para politikus tatakala berhadapan dengan media massa. Atau, menganggap bahwa komunikasi politik itu cukup dengan pemasang spanduk belaka.

Padahal, komunikasi politik itu menjadi rantai yang menyambung dan menjadi pengikat utama solidnya hubungan antara konstituen/ publik dengan organisasi dan antar konstituen sendiri. Oleh karena itulah, organisasi politik perlu mengelola sistem komunikasi politiknya secara baik, agar organisasi tetap berada di hati konstituennya atau mampu merebut serta menyita hati simpatisannya.

Problemnya adalah bagaimana menjadikan komunikasi politik mampu menggikat hati publik? Inilah yang menjadi tugas semua aktivis organisasi. Apalagi di tengah publik yang ”kecewa”, tentu tak gampang menjawab pertanyaan tersebut.

Mengacu dari prinsip dasar komunikasi, kegiatan inti komunikasi politik adalah menyebarkan pesan yang bernilai politis. Nah, dalam usaha itu terdiri dari tindakan pengumpulan informasi (gathered), produksi informasi (produced), pemilihan media/ saluran komunikasi, dan kemudian evaluasi atau audit komunikasi.

Proses pengumpulan informasi, merupakan tindakan awal dari komunikasi politik. Sebelum sebuah organisasi atau komunikator politik menyampikan informasi, maka semestinya dilakukan pengumpulan materi atau bahan. Ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan bahan dokumen, kliping media, jajak pendapat, hasil riset dan sebagainya.

Jika tahap pengumpulan telah dilakukan, maka dilakukanlah proses produksi informasi agar lahir pesan politis yang menyita perhatian banyak orang. Disini dilakukan pemilihan pesan inti. Pesan inti itu kemudian didesain dan dikemas dalam kata-kata yang tepat, atau bentuk simbolisasi lain sesuai dengan kebutuhan. Dari pesan yang telah terkemas dengan baik, selanjutnya dipilihlah media komunikasi apa yang paling efektif. Efektif tak selalu media massa. Terkadang, dalam konteks tertentu media komunikasi tatap muka lebih berhasil.

Setelah pesan disebarluaskan, maka kita harus terus melakukan pemantauan. Melalui monitoring dan evaluasi, kita dapat memeproleh masukan atas pesan yang kita sebarluaskan tersebut.

Ragam Tindak Komunikasi untuk Kepentingan Politik

Komunikasi politik itu berfungsi sebagai sarana untuk memberikan informasi, memberi pendidikan dan sekaligus untuk menegakkan citra. Oleh karena itu, komunikasi politik janganlah hanya dipahami di saat kampanye saja.

Secara kontinyu, anggota DPRD selayaknya melakukan komunikasi secara terpola. Harus mampu menjaga issue di mata publik, dan sekaligus juga menyediakan kesempatan untuk mendengar suara publik. Pesan politik tidak juga harus ditata dengan bahasa ”tinggi-tinggi”. Justru dalam komunikasi politik diperlukan pembahasaan yang sederhana, jelas dan mudah dicerna. Dengan begitu, publik dapat secara cepat memahami pesan tersebut.

Untuk melakukan komunikasi politik, maka beberapa catatan ini bisa untuk menjadi panduan:
  1. Kenali mendalam karakter sasaran khalayak sasaran sebagai penerima pesan komunikasi
  2. Desain pesan sejelas-jelasnya, dan jangan bermakna ganda
  3. Pilihlah media yang paling dominan yang lazim digunakan khalayak
  4. Lakukan monitoring terhadap suara dan kehendak publik
  5. Menyiapkan SDM yang secara khusus mengelola aktivitas komunikasi dengan publik
  6. Menjaga hubungan dengan lembaga media komunikasi dan pusat sumber informasi



Pada akhirnya, memahami komunikasi politik memerlukan perhatian khusus dan sungguh-sungguh. Dari sanalah akan lahir kader-kader militan, atau pula simpatisan yang bakal mendukung DPRD. Perlu dicatat bahwa komunikasi politik bukan hanya kegiatan menyampaikan pesan. Lebih dari itu, juga kegiatan mendengarkan suara publik. Karena dari mendengar suara itulah, kita bisa meramu dan merumuskan pesan publik yang tepat.

‘Ada atau Tidak Ada Anda, tetapi Tidak Menciptakan Perubahan, maka Lebih Baik Anda Tidak Ada’     
Share:

0 comments:

Post a Comment

Google+ Badge

Visitor

Flag Counter